Wednesday, June 30, 2010

GENESA BATU KAPUR


Genesa Batu Kapur
1.      PENDAHULUAN
Batu kapur merupakan salah satu mineral industri yang banyak digunakan oleh sektor industri ataupun konstruksi dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan, batu bangunan bahan penstabil jalan raya, pengapuran untuk pertanian dll.
Stabilitas politik yang baik indonesia telah memacu pengembangan sektor industri, konstruksi dan pertanian ketingkat yang lebih baik. Perkembangan ini secara tidak ;langsung memperlihatkan adanya peningkatan kebutuhan akan bahan baku dan penolong bagi perkembangan sektor industri yang merupakan industri hilir. Berdasarkan pertimbangan tersebut diperkirakan prospek pasar untuk komoditas pasar cukup cerah.

A.     Mula Jadi
Batu Kapur dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu secara organik secara mekanik atau secara kimia sebagian batu kapur dialam terjadi secara organik. Jenis ini berasal dari pengembangan cangkang atau rumah kerang dan  siput. Untuk batu kapur yang terjadi secara mekanik sebetulnya bahannya tidak jauh beda dengan batu kapur secara organik yang membedakannya adalah terjadinya perombakan dari bahan batu kapur tersebut kemudian terbawa oleh arus dan biasanya diendapkan tidak jauh dari tempat semula. Sedangkan yang terjadi secara kimia jenis batu kapur yang terjadi dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu dalam air laut ataupun air tawar.
B.     Mineralogi
Batu Kapur dan dolomit merupakan batuan karbonat utama yang banyak digunakan diindustri Aragonit yang berkomposisi kimia sama dengan Kalsit (CaCO3) tetapi berbeda dengan struktur kristalnya, merupakan mineral metas table karena pada kurun waktu tertentu dapat berubah menjadi Kalsit. Karena sifat fisika mineral-mineral karbonat hampir sama satu sama lain, maka tidak mudah untuk mengidentifikasinya.


C.     Identifikasi Batugamping
Batugamping merupakan salah satu golongan batuan sedimen yang paling banyak jumlahnya.Batugamping itu sendiri terdiri dari batugamping non-klastik dan batugamping klastik.
Batugamping non-klastik, merupakan koloni dari binatang laut antara lain dari Coelentrata, Moluska, Protozoa dan Foraminifera atau batugamping ini sering jyga disebut batugamping Koral karena penyusun utamanya adalah Koral.
Batugamping Klastik, merupakan hasil rombakan jenis batugamping non-klastik melalui proses erosi oleh air, transportasi, sortasi, dan terakhir sedimentasi.selama proses tersebut banyak mineral-mineral lain yang terikut yang merupakan pengotor, sehingga sering kita jumpai adanya variasi warna dari batugamping itu sendiri. Seperti warna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat, merah bahkan hitam.
Secara kimia batugamping terdiri atas Kalsium karbonat (CaCO3). Dialam tidak jarang pula dijumpai batugamping magnesium. Kadar magnesium yang tinggi mengubah batugamping dolomitan dengan komposisi kimia CaCO3MgCO3
Adapun sifat dari batugamping adalah sebagai berikut :
a. Warna                                        : Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan
b. Kilap                                          : Kaca, dan tanah
c. Goresan                                      : Putih sampai putih keabuan
d. Bidang belahan                           : Tidak teratur
e. Pecahan                          : Uneven
f. Kekerasan                                   : 2,7 – 3,4 skala mohs
g. Berat Jenis                                  : 2,387 Ton/m3
h. Tenacity                                      : Keras, Kompak, sebagian berongga

2.    Manfaat Batu Kapur
Adapun pemanfaatan dari kapur diantaranya adalah :
-         bahan bangunan
bahan bangunan yang dimaksud adalah kapur yang dipergunakan untuk plester,adukan pasangan bata, pembuatan semen tras ataupun semen merah.
-         Bahan penstabilan jalan raya
Pemaklaian kapur dalam bidang pemantapan fondasi jalan raya termasuk rawa yang dilaluinya. Kapur ini berfungsi untuk mengurangi plastisitas, mengurangi ppenyusutan dan pemuaian fondasi jalan raya
-         Sebagai pembasmi hama
Sebagai warangan timbal (PbAsO3) dan warangan kalsium (CaAsO3) atau sebagai serbuk belerang untuk disemprotkan.
-         Bahan pupuk dan insektisida dalam pertanian
Apabila ditaburkan untuk menetralkan tanah asam yang relatife tidak banyak air, sebagai pupuk untuk menambah unsur kalsium yang berkurang akibat panen, erosi serta untuk menggemburkan tanah. Kapur ini juga dipergunakan sebagai disinfektan pada kandang unggas, dalam pembuatan kompos dan sebagainya
-         Penjernihan air
Dalam penjernihan pelunakan air untuk industri , kapur dipergunakan bersama-sama dengan soda abu dalam proses yang dinamakan dengan proses kapur soda.



GENESA NIKEL





























GENESA ENDAPAN NIKEL LATERIT
1.   Endapan Nikel Laterit
Endapan nikel laterit merupakan bijih yang dihasilkan dari proses pelapukan batuan ultrabasa yang ada di atas permukaan bumi. Istilah Laterit sendiri diambil dari bahasa Latin “later” yang berarti batubata merah, yang dikemukakan oleh M. F. Buchanan (1807), yang digunakan sebagai bahan bangunan di Mysore, Canara dan Malabr yang merupakan wilayah India bagian selatan. Material tersebut sangat rapuh dan mudah dipotong, tetapi apabila terlalu lama terekspos, maka akan cepat sekali mengeras dan sangat kuat.
Smith (1992) mengemukakan bahwa laterit merupakan regolith atau tubuh batuan yang mempunyai kandungan Fe yang tinggi dan telah mengalami pelapukan, termasuk di dalamnya profil endapan material hasil transportasi yang masih tampak batuan asalnya.
Sebagian besar endapan laterit mempunyai kandungan logam yang tinggi dan dapat bernilai ekonomis tinggi, sebagai contoh endapan besi, nikel, mangan dan bauksit.
Dari beberapa pengertian bahwa laterit dapat disimpulkan merupakan suatu material dengan kandungan besi dan aluminium sekunder sebagai hasil proses pelapukan yang terjadi pada iklim tropis dengan intensitas pelapukan tinggi. Di dalam industri pertambangan nikel laterit atau proses yang diakibatkan oleh adanya proses lateritisasi sering disebut sebagai nikel sekunder.
2.
Ganesa Pembentukan Endapan Nikel Laterit
Proses pembentukan nikel laterit diawali dari proses pelapukan batuan ultrabasa, dalam hal ini adalah batuan harzburgit. Batuan ini banyak mengandung olivin, piroksen, magnesium silikat dan besi, mineral-mineral tersebut tidak stabil dan mudah mengalami proses pelapukan.
Faktor kedua sebagai media transportasi Ni yang terpenting adalah air. Air tanah yang kaya akan CO2, unsur ini berasal dari udara luar dan tumbuhan, akan mengurai mineral-mineral yang terkandung dalam batuan harzburgit tersebut. Kandungan olivin, piroksen, magnesium silikat, besi, nikel dan silika akan terurai dan membentuk suatu larutan, di dalam larutan yang telah terbentuk tersebut, besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida.
Endapan ferri hidroksida ini akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga kandungan air pada endapan tersebut akan mengubah ferri hidroksida menjadi mineral-mineral seperti goethite (FeO(OH)), hematit (Fe2O3) dan cobalt. Mineral-mineral tersebut sering dikenal sebagai “besi karat”.

Endapan ini akan terakumulasi dekat dengan permukaan tanah, sedangkan magnesium, nikel dan silika akan tetap tertinggal di dalam larutan dan bergerak turun selama suplai air yang masuk ke dalam tanah terus berlangsung. Rangkaian proses ini merupakan proses pelapukan dan leaching. Unsur Ni sendiri merupakan unsur tambahan di dalam batuan ultrabasa. Sebelum proses pelindihan berlangsung, unsur Ni berada dalam ikatan serpentine group. Rumus kimia dari kelompok serpentin adalah X2-3 SiO2O5(OH)4, dengan X tersebut tergantikan unsur-unsur seperti Cr, Mg, Fe, Ni, Al, Zn atau Mn atau dapat juga merupakan kombinasinya.
Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, dalam hal berupa kekar, maka Ni yang terbawa oleh air turun ke bawah, lambat laun akan terkumpul di zona air sudah tidak dapat turun lagi dan tidak dapat menembus bedrock (Harzburgit). Ikatan dari Ni yang berasosiasi dengan Mg, SiO dan H akan membentuk mineral garnierit dengan rumus kimia (Ni,Mg)Si4O5(OH)4. Apabila proses ini berlangsung terus menerus, maka yang akan terjadi adalah proses pengkayaan supergen (supergen enrichment). Zona pengkayaan supergen ini terbentuk di zona saprolit. Dalam satu penampang vertikal profil laterit dapat juga terbentuk zona pengkayaan yang lebih dari satu, hal tersebut dapat terjadi karena muka air tanah yang selalu berubah-ubah, terutama dari perubahan musim.

Dibawah zona pengkayaan supergen terdapat zona mineralisasi primer yang tidak terpengaruh oleh proses oksidasi maupun pelindihan, yang sering disebut sebagai zona Hipogen, terdapat sebagai batuan induk yaitu batuan Harzburgit.
3.
Faktor-faktor Utama Pembentukan Endapan Nikel Laterit
Faktor-faktor utama pembentukan bijih nikel laterit (www.wikipedia.co.id) adalah :

a.      Batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultrabasa. Dalam hal ini pada batuan ultrabasa tersebut : terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti olivin dan piroksin, mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.
b.      Iklim. Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan.
c.       Reagen-reagen kimia dan vegetasi. Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan dan erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan : penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan, akumulasi air hujan akan lebih banyak, humus akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.
d.      Struktur yang sangat dominan adalah struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif.

e.      Topografi. setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.
f.        Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.

4.
Geostatistik
Geostatistik awalnya didefinisikan oleh Matheron sebagai ``penerapan metode probabilistik untuk variabel yang terregionalisasi (data spasial)''. Berbeda dengan statistik konvensional, apakah itu suatu kompleksitas dan ketidakberaturan fenomena real, geostatistik dapat digunakan untuk menampilkan suatu struktur dari korelasi spasial (Warmada, 2004).

a.
Pengertian Geostatistik
Geostatistik merupakan suatu disiplin yang menerapkan bermacam-macam metode kriging untuk interpolasi spasial optimal (Carr, 1995). Sedangkan Matheron (1963) mendefinisikan geostatistik adalah ilmu yang khusus mempelajari distribusi dalam ruang, yang sangat berguna untuk insinyur tambang dan ahli geologi, seperti grade, ketebalan, akumulasi dan termasuk semua aplikasi praktis untuk masalah-masalah yang muncul di dalam evaluasi endapan bijih.
Warmada (2004) menjelaskan bahwa Geostatistik pada awalnya dikembangkan pada industri mineral untuk melakukan perhitungan cadangan mineral, seperti emas, perak, platina. D.K. Krige, seorang insinyur pertambangan Afrika Selatan, mendekatkan masalah ini dari titik pandang probabilistik yang kemudian oleh George Matheron, seorang insinyur dari Ecoles des Mines, Fontainebleau, Perancis, memberikan perhatian pada pekerjaan Krige dan menerapkan teori probabilistik dan statistik untuk memformulasikan pendekatan Krige dalam perhitungan cadangan bijih, yang dikenal dengan metode kriging.
Penerapan geostatistik secara praktis saat ini dapat dikatakan tak terbatas. Setiap eksperimen yang dibuat dalam kerangka ruang (seperti data dalam koordinat ruang dan nilai) dapat menggunakan geostatistik sebagai alat bantu untuk mengolah dan menginterpretasikannya. Yang membuat geostatistik sangat berguna adalah kemampuannya untuk mengkarakterisasi dalam artian penerapan struktur spasial dengan model probabilistik secara konsisten. Struktur spasial ini dikarakterisasi oleh variogram. Secara mendasar, ada dua macam metode yang didasarkan pada variogram dan covariance.
Untuk pemetaan dan estimasi, variogram dapat digunakan untuk menginterpolasi antara titik data (kriging). untuk mengkarakterisasi suatu ketidaktentuan pada estimasi (volume kadar di atas cut-off), variogram yang sama dapat digunakan. Sebagai suatu ilmu dasar, tidak ada batas dalam penggunakan geostatistik untuk bidang tertentu. Geostatistik dapat digunakan pada bidang-bidang: industri pertambangan, perminyakan dan lingkungan.
b.
Varians Dispersi dan Varians Estimasi pada Geostatistik
Pada geostatistik, nilai contoh merupakan suatu fungsi dari posisinya dalam endapan (peubah terregional), dan peubah relatif contoh ikut dipertimbangkan. Kesamaan nilai-nilai contoh yang merupakan fungsi jarak antar contoh serta yang saling berhubungan ini merupakan dasar teori geostatistik, seperti pada :

1.   Varians Dispersi. Varians yang memberikan suatu informasi tentang besarnya pencaran harga yang ada : misalnya kadar blok-blok penambangan pada suatu daerah pertambangan, kadar suatu material dalam dump truck.

Jika diketahui v adalah besaran contoh, V adalah blok penambangan dan W adalah besaran seluruh endapan bahan galian, maka sesuai dengan rumus dasar varians dispersi akan diperoleh persamaan :

σ2D (v / W) = σ2D (v / V) + σ2D (V / W)

Yang berarti, bahwa varians contoh terhadap endapan bijih adalah varians contoh terhadap blok ditambah dengan varians blok terhadap endapan bijih. Dalam hal ini varians contoh terhadap tubuh bijih lebih besar daripada varians blok terhadap tubuh bijih :

σ2D (contoh / tubuh bijih) < σ2D (blok / tubuh bijih)

Hubungan ini disebut juga hubungan Volume Varians

2.   Varians Estimasi. Estimasi suatu cadangan dicirikan oleh suatu ekstensi satu atau beberapa harga yang diketahui terhadap daerah disekitarnya yang tidak dikenal. Suatu harga yang diketahui (diukur pada contoh inti, atau pada suatu blok) diekstensikan terhadap bagian-bagian yang tidak diketahui pada suatu endapan bijih.
Ada beberapa cara estimasi yang sudah dikenal pada kegiatan pertambangan antara lain :
a.     Estimasi kadar rata-rata suatu cadangan bijih berdasarkan rata-rata suatu kadar (misalnya didapat dari analisa contoh pemboran / sumur uji).
b.     Estimasi endapan bijih pada suatu tambang atau blok-blok penambangan dengan pertolongan poligon sebagai daerah pengaruh yang antara lain didasari oleh titik-titik pengamatan berikutnya atau pembobotan secara proporsional yang berbanding terbalik dengan jarak.
Untuk estimasi menggunakan satu contoh, dimana harga tersebut diekstensikan ke suatu volume yang lebih besar dikenal dengan istilah ekstensi dan varians ekstensi. Sedangkan estimasi berdasarkan beberapa contoh, dimana harga-harga contoh tersebut diekstensikan ke suatu volume dikenal dengan estimasi dan varians estimasi.

Tuesday, June 29, 2010

Rindu padamu sayank

Wahai belahan jiwaku...
Namamu tlah terpatri diHatiku...
Hatiku sungguh tak bisa berpaling pada orang lain...
Walau dia melebihi dirimu dalam segala hal
kepercayaanku tak akan goyang oleh terpaan deru angin...
Hatiku tak akan berubah padb posisinya
walau ombak menerjangnya....

Wahai kekasih...
Kerinduan telah menyentuh sukma...
Puing-puing kenangan saat bersamamu
berhamburan di memori otakku...
Kebersamaan...
Bermandi wanginya pertemuan...
Yang akhirnya menyiksa diri...

Waktu demi waktu...
Menyadarkan aku akan cintaku yang tulus kepadamu...
Kesetiaan agung pada dera kerinduan
laksana bumi menanti hujan dari langit
dikemarau yang panjang...

Wednesday, June 23, 2010

DESKRIPSI MINERAL


DESKRIPSI MINERAL

1.   Nama Mineral                   : Topas
Rumus kimia                     : Al2(SiO4)(F2OH)2
Berat Jenis (BD)               : 19,3
Sistim Kristal                    : ortorombik
Belahan                             : sempurna
Warna                                : bening,kuning, merah mudakebiruan, kehijauan
Goresan                             : -
Kekerasan                         : 8

2.   Nama Mineral                   : perak
Rumus kimia                     : Ag
Berat Jenis (BD)               : 10,5
Sistim Kristal                    : Isomerik
Belahan                             : Tidak ada
Warna                                : Putih
Goresan                             : putih
Kekerasan                         : 2,5-3

. 3. Nama Mineral                   : Tembaga
Rumus kimia                     : Cu
Berat Jenis (BD)               : 8,9
Sistim Kristal                    : Isomerik
Belahan                             : Tidak ada
Warna                                : Coklat
Goresan                             : hitam logam
Kekerasan                         : 2,5-3



4.  Nama Mineral                    : Platina
Rumus kimia                     : Pt
Berat Jenis (BD)               : 21,4
Sistim Kristal                    : Isomerik
Belahan                             : Tidak ada
Warna                                : Putih abu-abu
Goresan                             : abu-abu
Kekerasan                         : 4-4,5

5.  Nama Mineral                    : Besi
Rumus kimia                     : Fe
Berat Jenis (BD)               : 7,3-7,8
Sistim Kristal                    : Isometrik
Belahan                             : Tidak ada (010)
Warna                                : Abu-abu besi-hitam
Goresan                             : abu-abu
Kekerasan                         : 4

6.  Nama Mineral                    : Arsen
Rumus kimia                     : As
Berat Jenis (BD)               : 5,75
Sistim Kristal                    : Heksagonal
Belahan                             : Sempurna
Warna                                : Putih timah sampai abu-abu gelap
Goresan                             : abu-abu
Kekerasan                         : 3,5

7.  Nama Mineral                    : Animon
Rumus kimia                     : Sb
Berat Jenis (BD)               : 6,68
Sistim Kristal                    : Heksagonal
Belahan                             : Sempurna
Warna                                : logam
Goresan                             : abu-abu
Kekerasan                         : 3-3,5

8.  Nama Mineral                    : Bismut
Rumus kimia                     : Bi
Berat Jenis (BD)               : 9,8
Sistim Kristal                    : Trigonal
Belahan                             : sempurna, baik
Warna                                : putih timah dengan warna merah mudah pucat
Goresan                             : putih
Kekerasan                         : 2-2,5


9.  Nama Mineral                    : Belerang
Rumus kimia                     : S
Berat Jenis (BD)               : 2,1
Sistim Kristal                    : ortorombik
Belahan                             : tidak sempurna
Warna                                : kuning belerang sampai coklat kekuningan
Goresan                             : putih
Kekerasan                         : 1,5-2,5

10.  Nama Mineral                  : Intan
Rumus kimia                     : C
Berat Jenis (BD)               : 3,5
Sistim Kristal                    : isometrik
Belahan                             : sempurna
Warna                             : bening, putih sampai putih kebiruan, abu-abu, kuning, coklat, oranye, merah, biru, hijau, hitam
Goresan                             :
Kekerasan                         : 10

11.  Nama Mineral                  : Grafit
Rumus kimia                     : G
Berat Jenis (BD)               : 2,2
Sistim Kristal                    : heksagonal
Belahan                             :
Warna                                : tanah sampai logam
Goresan                             : hitam
Kekerasan                         : 1-2

12.  Nama Mineral                  : Argentit
Rumus kimia                     : Ag2S
Berat Jenis (BD)               : 7,04
Sistim Kristal                    : isometrik
Belahan                             : tidak jelas
Warna                                : hitam sampai abu-abu gelap
Goresan                             : hitam
Kekerasan                         : 2-2,5


13.  Nama Mineral                  : Kalkosit
Rumus kimia                     : Cu2S
Berat Jenis (BD)               : 5,77
Sistim Kristal                    : ortorombik
Belahan                             : tidak jelas
Warna                                : abu-abu kehitaman sampai hitam
Goresan                             : abu-abu kehitaman
Kekerasan                         : 2,5-3





14.  Nama Mineral                  : Bornit
Rumus kimia                     : Cu5FeS4
Berat Jenis (BD)               : 5,0
Sistim Kristal                    :tetragonal
Belahan                             : dalam jejak
Warna                                : merah tembaga atau perunggu
Goresan                             : hitam keabu-abuan yang terang
Kekerasan                         : 3


15.  Nama Mineral                  : Gelena
Rumus kimia                     : PbS
Berat Jenis (BD)               : 7,58
Sistim Kristal                    : isometrik
Belahan                             : sempurna
Warna                                : abu-abu timah
Goresan                             : abu-abu timah
Kekerasan                         : 2,5


16.  Nama Mineral                  : Spalerit
Rumus kimia                     : ZnS
Berat Jenis (BD)               : 3,9-4,1
Sistim Kristal                    : kubik
Belahan                             : sempurna
Warna                                : merah jingga sampai mendekati hitam
Goresan                             : coklat sampai kuning
Kekerasan                         : 3,5-4






17.  Nama Mineral                  : Kalkopirit
Rumus kimia                     : CuFeS2
Berat Jenis (BD)               : 4,28
Sistim Kristal                    : tetragonal
Belahan                             : tidak jelas
Warna                                : kuning terang sering dengan coklat
Goresan                             : hitam kehijauan
Kekerasan                         : 3,5-4

18.  Nama Mineral                  : Pirit
Rumus kimia                     : FeS2
Berat Jenis (BD)               : 4,7
Sistim Kristal                    : kubik
Belahan                             : tidak ada
Warna                                : kuning terang muda
Goresan                             : hitam kehijauan
Kekerasan                         : 6-6,5


19.  Nama Mineral                  : Manganit
Rumus kimia                     : MnO(OH)
Berat Jenis (BD)               : 2,71
Sistim Kristal                    : monoklin
Belahan                             : sempurna
Warna                                : abu-abu gelap sampai hitam
Goresan                             : coklet kemerahan sampai hitam
Kekerasan                         : 4







20.  Nama Mineral                  : Kalsit
Rumus kimia                     : CaCO3
Berat Jenis (BD)               : 2,85
Sistim Kristal                    : heksagonal
Belahan                             : sempurna
Warna                                : bening atau putih
Goresan                             : putih
Kekerasan                         : 3


21.  Nama Mineral                  : Dolomit
Rumus kimia                     : CaMg(CO3)2
Berat Jenis (BD)               : 4,50
Sistim Kristal                    : heksagonal
Belahan                             : sempurna
Warna                                : bening atau putih sempurna krem
Goresan                             : putih
Kekerasan                         : 2,85



22.  Nama Mineral                  : Olivin
Rumus kimia                     : (Mg,Fe)2(SiO4)
Berat Jenis (BD)               : 3,5-4,3
Sistim Kristal                    : ortorombik
Belahan                             : tidak ada
Warna                                : hijau kekuningan sampai keabu-abuan
Goresan                             :
Kekerasan                         : 6,5-7






23.  Nama Mineral                  : Serpentin
Rumus kimia                     : Mg6(Si4O10)(OH)8
Berat Jenis (BD)               : 2,7-2,8
Sistim Kristal                    : monoklin
Belahan                             : idak ada
Warna                                : sering bervariasi memperlihatkan penggantian dalam lebih terang dan lebih gelap
Goresan                             : -
Kekerasan                         : 3-5, selalu 4


24.  Nama Mineral                  : Biotit
Rumus kimia                     : K(Mg,Fe)3(AlSi3O10)(OH)2
Berat Jenis (BD)               : K(Mg,Fe)3(AlSi3O10)(OH)2
Sistim Kristal                    : monoklin
Belahan                             : sempurna
Warna                                : hijau,coklat, hitam
Goresan                             : -
Kekerasan                         : 2,5-3


25.  Nama Mineral                  : Kuarsa
Rumus kimia                     : SiO2
Berat Jenis (BD)               : 2,65
Sistim Kristal                    : heksagonal
Belahan                             : tidak ada
Warna                                : bening atau putih
Goresan                             : -
Kekerasan                         : 7